Si Gila

 

Selamat pagi, Nimas!

Apa kabar dengan matamu pagi ini?

Mata yang bening sebening embun menggelanting di pucuk pagi jatuh melinang di wajah dedaunan. Daun-daun itu mungkinkah aku? Remah kenang yang tersisa dari pergantian hari masih menyapa bangunku. Secangkir kopi hangat dan sebatang rokok melengkapi pikiran-pikiranku yang menuju engkau. Terkadang aku tersenyum, ketika menemukan diriku asyik bermain-main dengan parasmu. Ah, betapa indah pagiku sejak pertemuan itu. Mimpi-mimpi menjadi separuh nyata dan separuh lagi menjelma embun.


Nimas! Tahukah engkau bahwa dengan membaca jejak senyummu telah mengantarku pada kelana batin teramat dalam menyelami kehidupan ini, walau engkau tak banyak tersenyum untukku? Namun, teruslah tersenyum, sebab hanya itu jalanku memahamimu selain tatapan kedua mata itu, hingga pada suatu saat pertemuan akan memberiku kenikmatan dengan menyaksikan wajahku di matamu!

 

Kini aku kembali dalam persemayaman sunyi yang kucintai, akan kukabarkan perihalmu kepada dinding-dinding kosong ruangan itu agar segera memajang pigura seorang wanita sederhana yang cerdas. Wanita yang tak tahu bahwa aku sedang berusaha menyingkap kegaiban dari kesederhanaannya. Meski aku mendiami sunyi, tetap jua merindumu. Terlebih ketika engkau berkisah tentang buih menepi di tapal batas. Banyak hal engkau pahami tentang aku dan kesunyian, tetapi ada yang luput untuk kaupahami. Banyak hal yang kupikirkan karena menjagamu dari kebengisan prasangka mendung dan terik. Mungkin yang terlintas dalam benakmu bahwa aku jahat. Sudilah kiranya engkau memahami hal itu,  sebab aku selalu menjaga apa yang kukagumi dan kucintai dengan caraku. Apakah ini kegilaan?

Aku gembira sebab kaubahagia dengan tulisan-tulisanku, padahal di dalam itu ada kegilaan.

Sebut saja aku Si Gila, ya gila. Karena sampai saat kutulis ini aku berada dalam kegilaan. Gila kata, gila bait, gila puisi, dan gila! Namun, segila-gilanya aku. Wajahku masih terkadang merah ditampar keengganan. Enggan engkau tahu bahwa aku gila.

Nimas, aku berat hati karena harus menutup tulisan ini tersebab mentari mulai melesapkan embun-embun yang kucintai itu. Jaga seluruhmu sebagaimana engkau menjaga matamu!