Nimas, dalam suratku kali ini aku ingin bercerita tentang jalan yang tak lagi mendengar langkah kaki, gelap berliku tanpa bintang-bintang. Hanya bulan padam, kunang-kunang tiada beterbangan lagi.
Cahaya telah hilang, mungkin ditelan biru lautan. Meski berkali-kali gelombang datang, sinar itu tak akan kembali ke permukaan.
Langit muram tanah sekarat, detak jam hanya waktu yang galau tak mampu memberi sedikit terang untuk mencipta atau menghapus tubuh biru. Musim menelan bayang-bayang sampai lenyap seperti lesapnya gerimis di remah tanah. Akhirnya engkau tiba di depan rumah tua itu rumah berdinding gumpal debu.
Engkau kurindukan meskipun engkau tak pernah rindu kepadaku, bahkan begitu senangnya meninggalkanku berlama-lama!
Daun pintu rumah tua itu terbuka berderit seperti jerit menyapa dengan hujan merah di bingkainya. Perlahan-lahan engkau masuk, meraba lentera yang tergantung di dinding sepasang malaikat hitam lebih dulu menyalakannya.
“Kini engkau senang menjadi lupa bahkan akrab alpa untuk kembali, janganlah sampai tak ingat jalan pulang!” Lentera itu menegurmu.
Engkau tersentak saat melihat cermin di kamar diam-diam mengubah bayanganmu menjadi asap tak berapi.
“Tak ada tempat untuk bersolek di sini, engkau tak kenal bahkan tak mencintai kami lagi!” Cermin itu pun menegurmu.
Engkau menangis meraung sejadi-jadinya tanpa ada yang iba. Sungguh tak ada keharuan, jubah putih di tubuhmu juga tak peduli.
“Bawa aku kembali ke rahim perempuan suci yang telah kulupakan bibirnya!” pintamu.
Tapi, tak ada yang sudi mendengarmu. Pintu tertutup rapat-rapat, lentera padam segelap-gelapnya, cermin itu jatuh pecah berkeping-keping. Tinggallah engkau menanti lonceng terakhir yang entah kapan akan berdentang. Seorang diri menyisakan sesal terkemas ratapan.
Nimas! Siapkah engkau menjalani perjalanan itu?
