Kepada kertas-kertas yang kulurupi dengan tinta, engkau menenun tanya. Adakah ia mengutuk noda pada kodrat putihnya? Sederet huruf memberi jawab, ”Putih tak indah tanpa hitam!”
Mari berebut embun!
Membasuh dinding-dinding batu pembatas warna. Hakikatnya kita adalah ceceran teduh awan, hingga di sebuah ketika akan menjadi hujan.
Gelinding pena adalah telajak penanda ketika peradaban tergerus masa. Dawat terberai bertutur jujur menjelma prasasti jejak napas meski usia menyerah kepada ajal.
Lasusua, 3 Maret 2018
