Kini rindu tak sedang bertandang ke hatiku, tetapi aku yang tengah menghuni rindu itu. Aku tak mencarinya, karena ia akan datang dalam kesunyian, dalam jiwaku! Aku tak lagi mengecapi pedih atau bahagia, sebab telah nyaman dalam kerinduan yang datang kepadaku. Laksana camar pulang ke sarang dengan kesyukuran menemui harapan di mulut anaknya.
Nimas, mari kita berbicara tentang pertamanan yang kemarin kautaburi benih-benih cinta! Benih itu kini tumbuh bertunas pucuk hijau yang segar.
Pada musim rampai hati, ia akan mekar menebar wangi dan manis nektar. Tak sesiapa yang boleh memetik setangkai pun, biarkan bunga-bunga itu mengungkapkan indahnya. Kita telah cukup dengan menghirup harumnya, memuaskan mata menatap keelokan rupanya kita jangan membunuhnya! Biarkan saja tumbuh menemukan kehidupan pada setiap fajar yang menggenggam embun untuknya.
Kesunyian kita adalah lengang taman surga yang dihuni irama kepak sayap serangga menjadi melodi malam-malam lindap cahaya. Seperti desah napasmu, ketika menjadi dengung dalam renung mendiami relung jiwaku yang tak lagi mengenal musim dan waktu.
Sesungguhnya, Nimas. Kesunyian itu telah cukup dengan engkau, aku, dan cinta!
