Di beranda pondok tempat mengasingkan diri dari kebisingan siang, kulihat daun-daun tersenyum perihal wajahnya kembali bersih dari debu kemarau. Pada salah satu daun kutemukan engkau dengan senyum yang sama. Kucoba menerkanya, mungkin tetesan rindu yang telah membasuh kering di bibir retakmu. Aku pun terus saja menerka!
Antara gerimis dan sunyi terjalin pertalian merah yang hanya bisa terlihat oleh mata sebening telaga. Tetapi, gerimis enggan mengawini sunyi. Ia takut perkawinan membunuh rasa cinta kasihnya yang romantis. Perkawinan sesungguhnya bukanlah sebuah permulaan, ia adalah sesuatu yang semerbak. Jika kita telah peka dengan keharuan terhadap pasangan maka cinta kasih akan berkembang. Dan bila dalam keharuan kita mampu masuk ke alam diri, maka keharuan akan menumbuhkan welas asih dari cinta kasih itu.
Kekasih bukan hanya menjadi kebutuhan jasadi, tetapi kita akan berterima kasih padanya karena kita telah memasuki alam diri, kebahagiaan baru akan timbul di antaranya melalui diri bersama kekasih.
Kita telah bermesraan dengan semesta dan mendapat pandangan sekilas ke kedalaman realita yang tak diketahui. Kita akan merasakan welas asih, terharu terhadap penderitaan, terharu terhadap kerinduan, terharu terhadap kecintaan, terharu terhadap sesama insan, terharu terhadap semesta. Gerimis rindu memunculkan sebuah perasaan bahwa cinta kasih bukan hanya sekadar pemicu pikiran, melainkan sebuah pendewasaan, suatu pertumbuhan, dan sebuah realisasi alam diri.
Cinta kasih
adalah kesyukuran, kebahagiaan, dan keharuan. Bila cinta kasih mencapai
puncak maka perkawinan akan terlampaui. Laksana bunga yang tumbuh melalui akar-akarnya. Namun, selanjutnya
ia melampauinya dan tidak kembali menemui akar itu.
Perkawinan ibarat kulit sebuah pohon, lapisan yang harus dilalui agar cinta kasih menjadi kenyataan danselanjutnya akan berkembang. Pada saat cinta kasih muncul, kulit sudah tiada lagi, dahan dan ranting tak ada lagi, daun dan bunga tak ada lagi, mereka telah menjadi satu dalam suatu kesunyian.
Nimas, mari kita melampaui pikiran-pikiran kita!
Kita hanya akan mencapai cinta kasih murni jika melampaui pikiran-pikiran itu dengan kesadaran alam diri. Kita jangan terpuaskan oleh perkawinan, pemuas berahi sesaat dan berakhir tanpa kehadiran cinta kasih murni. Bila tidak ada kesadaran di dalamnya maka perkawinan akan terus timbul dan diulang hingga timbul rasa bosan.
Perkawinan akan menjemukan dan tidak menimbulkan rasa terima kasih kepada kekasih. Hal inilah menjadi penyebab mengapa banyak orang yang berganti-ganti pasangan. Perkawinan adalah jasadi dan cinta kasih adalah spiritual.
Mendekatlah engkau, Nimas! Sedikit kecupan akan kupahatkan di matamu agar tumbuh bunga-bunga menghiasi alismu. Hingga ketika cinta kasih berbunga terlantunlah doa-doa. Kita sekarang tidak jauh dari Yang Agung. Kita telah dekat dengan tempat tinggal asal kita, adalah sunyi!
Salam hangat dari kekasihmu!.
