Engkau di Bulu Mata

 


Berjalan di rimbun sunyi, ketika jerit perih menyanyi. Angan diam-diam tak lirih sebunyi, bayang-bayang luka beranjak sembunyi.

Napas terhela senyap angin nan sendalu, pergi membawa harapan setikar pilu. Nanar mata di bawah pelupuk nan bermalu, serampai lidah hanyalah sayat sembilu. Lagu dan sajak terdera kelu, terlayang jiwa selayang pialu.

Oh, betapa hati ngilu!
Bukan sekarang sedari dahulu, di bulu mata engkau melulu.

Mengapa tega nyaringmu membelasah, haruskah pena dan tinta saling bersesah?
Engkau tahu seperti apa itu gelisah, apakah di sana engkau tak resah?
Izinkan aku merindu kepada basah, meski rebas di rapuhnya ujung kisah. 

Luwu , 7 September 2017

Perawan Mimpi yang Hilang

 


Telah kucampakkan ragaku pada serpih bening kaca yang membeling. Kutakut luka itu terbaca angin, lalu dibisikkannya kepada langit. Awan menghitam marah!

Telah kuterlantarkan bayangku di sungai berhulu sunyi tanpa penghuni. Jika mata air menjadikannya hanyut, sengsaralah ia di ambang laut. Biarkan saja menemu takdir, pasrah!

Telah kurajam hatiku karena menyimpan secebis ingin yang melumat keperjakaan malam. Dan saat pagi menggurat cahaya, kuikhlaskan perawan-perawan mimpi berpamitan. Aku tak terpukau pada semburat yang saga meski emas, tetap kucintai malam walau hitam itu pekat.

Telah kulantakkan anganku di rongga karang yang tegak di hadapan pasir putih. Biar matahari yang api membakar hanguskan ingatan sampai leleh, semoga keteduhan senja menjadikannya cinta. Repih pun tiada mengapa.

Duhai perawan mimpi yang hilang!
Rindu hatiku seberapa cahaya jika kuselipkan di matamu?

Luwu, 8 September 2017

Di Ujung Mata Sembilu

 


Sepuluh gendewa melesatkan seribu panah menuju dada ini tidak akan membuatku menyerah kepada nasib.  Tak lagi kumampu menghitung luka membilang pilu karena rindu yang telah menyisakan sayat dalam hayat, haruskah pahit kukatakan manis hanya untuk mengelak dari kenyataan?

Maka biarlah engkau menjadi hujan yang datang sesaat lalu hilang terlupa musim, sementara engkau tahu napasku di ujung mata sembilu ketika tiadamu. Lalu, di mana senyum kaualamatkan?

Apakah kita hanya selembar mimpi yang lunglai di dua sisi setelah rasa kasih berselisih dengan cemburu?
Padahal kaulumat habis selaksa kulum senyumku sebelum kejora menggelanting di bulu mata!
Itukah yang kausebut cinta nan agung?

Luwu, 18 September 2017