Fragmen Sunyi

 

Gerhana itu telah berlalu sisakan pendar lamat-lamat di awang-awang, ini yang ke entah!

Bening nektar pupus wangi menetes jatuh di selasar malam. Tirus cahaya tikam sunyi ketika embun pamit satu-satu hendak tunaikan janji temu kepada daun.

Pekat selubung ngilu terurai setelah kesah hunjam resah. Buhul waktu mendera mendung yang urung merinai gerimis.

Kutemui engkau yang tiada, dalam ruang-ruang hampa. Sebab mata telah pun renta dan tak lagi unggun di peristirahatan senja. Serupa awan repih mengikuti embara angin.

Biar kunikahi hitam bayang tebing-tebing batu, yang lebih memahami taksa musim. Sebab mimpi hanya bangkai-bangkai kegelapan mengubur diri di pelataran pagi.

Lasusua, 4 Februari 2018

Gelinding Pena


Kepada kertas-kertas yang kulurupi dengan tinta, engkau menenun tanya. Adakah ia mengutuk noda pada kodrat putihnya? Sederet huruf memberi jawab, ”Putih tak indah tanpa hitam!”

Mari berebut embun!

Membasuh dinding-dinding batu pembatas warna. Hakikatnya kita adalah ceceran teduh awan, hingga di sebuah ketika akan menjadi hujan.

Gelinding pena adalah telajak penanda ketika peradaban tergerus masa. Dawat terberai bertutur jujur menjelma prasasti jejak napas meski usia menyerah kepada ajal.  

Lasusua, 3 Maret 2018

Perjalanan Sunyi

 

Malam berselindung risau, serupa bulan sayu melirik awan putih menuju hitam. Ditinggalkannya rupa kumulus ketika seperempat cahaya pamit sebelum senja. Masih kulihat gurat samar aurora di punggungnya. Kudekap sunyi dalam peluk paling hening, dingin membening!

Perlahan benak ayun kenang, mengejar bayang berloncatan di ranting mata. Teramat indah kusaksikan gemulai bibirmu menenun teja dari benang-benang cahaya.

Embus angin berbisik merdu di telinga anak malam yang gelisah menanti hangat. Mengajakku bermain rindu. Akh, senduku mendesah lirih!

Lalu, aku menjelma sekunar johar! Melayari angan di kegamangan samudra usia, berharap menemu dermaga. Pelabuhan engkau dan aku!

Lasusua, 12 Maret 2018

Cemara Kehidupan


Kini perjalananku begitu jauh ke dalam rimba sunyi. Entah musim apa saat ini, yang pasti aku sedang memandikan bayanganmu di telaga merah hati-Nya.

Rimba sunyi hunianku semakin rimbun, kian teduh. Sekelompok kutilang bernyanyi riang berlompatan dari tangkai-tangkai cemara yang daunnya menusuk bulan ketika malam separuh usia, laksana kerinduan menikam tulang-tulangku saat aroma sedap malam mengingatkan akan wangi desah napasmu yang menelisik paruku.

Nimas, kepadamu kuberikan hatiku bukan untuk kaupenjara dalam jeruji atas nama cinta yang diagungkan sang pendogma.

Lihatlah pohon-pohon cemara! Mereka tumbuh dalam bayang-bayang yang menyatu dengan pepohonan lain tanpa peduli perbedaan. Lalu, perhatikan gumpal awan-awan di wajah bulan. Mereka saling  mendekat  kemudian  berdekapan dan pada pelukan itu lahirlah hujan memberi kehidupan bagi pertamanan.

Pada malam hari, kaper mengitari daun cemara. Terbang  bersama  kunang-kunang,  bermain  bulan  di pucuk dedaunan. Seekor kaper adalah simbol perjuangan. Semula kepompong lalu menjadi ulat berbulu kemudian waktu memberinya sayap yang indah hingga bebas melayang ke sana kemari menari-nari.

Pada kejadian mana lagi yang tak hendak kaubaca untuk memetik pesan kehidupan? Mari membaca semesta. Kita adalah cemara-cemara itu. Yang berakrab diri dengan segala musim, di musim dingin bersalju kita bermunajat dan pada musim semi kita melambai-lambai bermain angin, di musim kemarau kita menyapa panasnya terik matahari.

Sejak  meninggalkan  kota  tua  itu.  Aku  terasing dalam belantara sunyi, di mana masa lalu membunuh masa depan dan malam membunuh segala mimpi yang pasrah. Sesekali aku mengunjungi kota tua itu. Jalan-jalan kian  sempit  dan  gelap,  kebisingan  semakin  ingar dan aku merasa di sana tiada tempat lagi.

Tiba-tiba seekor burung gereja terbang rendah, lalu hinggap  di  atas  pagar   sebuah   rumah   kaca.  Sendu matanya laksana melihat bayangan kematian memanggil. Mungkin lantaran belum menemukan makanan untuk anaknya di hari menjelang senja itu. Ingin kuajak ia bersamaku ke dalam belantara sunyi kita agar memulai harapan bersama kutilang di pohon cemara.

Dari tangkai cemara kudengar derap langkah angin yang hendak ke lembah.

Berkatalah ia, “Hei, penghuni sunyi. Ada berita apa hendak kautitip untuk kekasihmu?”

“Kabarkan kepadanya bahwa sebentar lagi musim salju akan tiba, maka segeralah kembali menemuiku di bawah pohon cemara ini!” jawabku.

Sang angin melipat lidahnya kemudian lesap di antara kerumunan kabut yang mulai mengelus daun-daun cemara dan langit mulai menukar birunya dengan benang-benang merah. Ia tak tahu, waktuku telah menjadi satu dalam kesunyian panjang tanpa peduli kepada siang malam dan lupa cara bermimpi.

Aku pejalan sunyi menghuni rimba tak sepi yang meninggalkan kota tua bersama kekasihku.  Aku hidup dengan cinta yang memberi dan menerima kasih sayang dalam dekapan tangan Tuhan. Pada suatu saat nanti akan mengunjungi kota tua untuk memberi gandum kepada anak burung gereja yang bersarang di bawah jembatan.

Namun, setelah musim salju kota itu telah mati dicekam kebekuan. Air mataku tak mampu membangunkan tiga bangkai burung gereja dalam sarangnya. Ia telah mati tertindas oleh salju-salju yang memang hanya menyelesaikan tugas sebagai penanda waktu. Dan aku pulang membawa tiga bangkai burung gereja. Menguburnya di bawah pohon cemara paling tinggi.

Empat pergantian musim sejak jiwa kita berangkat bersunyi membawa kerinduan dalam denyut jantung yang bergelantungan di bawah dahan-dahan cemara menjadi kicau kutilang manakala pagi terbit mengusaikan  kisah-kisah  sang  embun.  Dan  angin selatan mengembus pulang dari lembah para pemimpi sambil menatap kilau harapan di ufuk timur.

Di awal hari ini kumaharkan runjung daun cemara sebagai simbol dari sunyi dan kesabaran.

Nimas, dekatkan matamu, ingin kusematkan sebuah kecupan di kelopaknya. Kecupan yang melahirkan senyum paling indah dari rahim bibirmu. Biarkan saja pohonan cemara, kutilang, kaper, dan nisan tiga burung gereja itu cemburu menyaksikannya!