Kini perjalananku begitu jauh ke dalam rimba sunyi. Entah musim apa saat
ini, yang pasti aku sedang memandikan bayanganmu di telaga merah hati-Nya.
Rimba sunyi hunianku semakin rimbun, kian teduh. Sekelompok kutilang
bernyanyi riang berlompatan dari tangkai-tangkai cemara yang daunnya menusuk
bulan ketika malam separuh usia, laksana kerinduan menikam tulang-tulangku saat
aroma sedap malam mengingatkan akan wangi desah napasmu yang menelisik paruku.
Nimas, kepadamu kuberikan hatiku bukan untuk kaupenjara dalam jeruji atas nama cinta yang diagungkan sang pendogma.
Lihatlah pohon-pohon cemara! Mereka tumbuh dalam bayang-bayang yang menyatu dengan pepohonan lain tanpa peduli perbedaan. Lalu, perhatikan gumpal awan-awan
di wajah bulan. Mereka saling mendekat kemudian berdekapan dan pada pelukan itu lahirlah hujan memberi kehidupan bagi pertamanan.
Pada malam hari, kaper mengitari daun cemara. Terbang bersama kunang-kunang, bermain bulan di pucuk dedaunan. Seekor kaper adalah simbol perjuangan. Semula kepompong lalu menjadi
ulat berbulu kemudian waktu memberinya sayap yang indah hingga bebas melayang ke sana
kemari menari-nari.
Pada kejadian mana lagi yang tak hendak kaubaca untuk memetik pesan kehidupan?
Mari membaca semesta. Kita adalah cemara-cemara itu. Yang berakrab diri dengan
segala musim, di musim dingin bersalju kita bermunajat dan pada musim semi kita
melambai-lambai bermain angin, di musim kemarau kita menyapa panasnya terik
matahari.
Sejak meninggalkan kota tua itu. Aku terasing dalam belantara sunyi, di mana masa lalu membunuh masa
depan dan malam membunuh segala mimpi yang pasrah. Sesekali aku mengunjungi kota tua itu. Jalan-jalan kian sempit dan gelap, kebisingan semakin ingar dan aku merasa di sana tiada tempat lagi.
Tiba-tiba seekor burung gereja terbang
rendah, lalu hinggap di atas pagar sebuah rumah kaca. Sendu matanya laksana melihat bayangan
kematian memanggil. Mungkin lantaran belum
menemukan makanan untuk anaknya di hari menjelang senja itu. Ingin kuajak ia bersamaku ke dalam belantara sunyi kita agar memulai harapan bersama kutilang di pohon
cemara.
Dari tangkai cemara kudengar derap langkah angin yang hendak ke lembah.
Berkatalah ia, “Hei, penghuni sunyi. Ada berita apa hendak kautitip untuk
kekasihmu?”
“Kabarkan kepadanya bahwa sebentar lagi musim salju akan tiba, maka segeralah kembali menemuiku di bawah pohon cemara ini!” jawabku.
Sang angin melipat lidahnya kemudian lesap di antara kerumunan kabut yang mulai
mengelus daun-daun cemara dan langit mulai menukar birunya dengan benang-benang
merah. Ia tak tahu, waktuku telah menjadi satu dalam kesunyian panjang tanpa
peduli kepada siang malam dan lupa cara bermimpi.
Aku pejalan sunyi menghuni rimba tak sepi yang meninggalkan kota tua
bersama kekasihku. Aku hidup dengan cinta yang memberi
dan menerima kasih sayang dalam dekapan tangan Tuhan. Pada suatu saat nanti akan mengunjungi kota tua untuk
memberi gandum kepada anak burung gereja yang bersarang di bawah jembatan.
Namun, setelah musim salju kota itu telah mati dicekam kebekuan. Air mataku tak mampu membangunkan tiga bangkai burung gereja dalam
sarangnya. Ia telah mati tertindas oleh salju-salju yang memang hanya menyelesaikan tugas sebagai penanda waktu. Dan aku pulang membawa tiga bangkai burung
gereja. Menguburnya di bawah pohon cemara paling tinggi.
Empat pergantian musim sejak jiwa kita berangkat bersunyi membawa kerinduan
dalam denyut jantung yang bergelantungan di bawah dahan-dahan cemara menjadi
kicau kutilang manakala pagi terbit mengusaikan kisah-kisah sang embun.
Dan angin selatan mengembus pulang dari lembah
para pemimpi sambil menatap kilau harapan di ufuk timur.
Di awal hari ini kumaharkan runjung daun cemara sebagai simbol dari sunyi
dan kesabaran.
Nimas, dekatkan matamu, ingin kusematkan sebuah kecupan di kelopaknya. Kecupan
yang melahirkan senyum paling indah dari rahim bibirmu. Biarkan saja pohonan cemara,
kutilang, kaper, dan nisan tiga burung gereja itu cemburu menyaksikannya!