Kesaksian Cadas

Ingin sekali kuajak engkau menyusuri malam ini, mengikuti jejak cahaya dari celah dedaunan.

Perjalanan yang tak pernah meletihkanku, berkelana di antara sepoi embus angin menikmati senandung anak sungai yang menggoda bebatuan cadas tempatku duduk bersila. Di bawah kakiku, sederet arus berebut hendak menjadi buih.

 Oh, selamatkan buih-buih itu dari kerasnya batu-batu cadas ini! Aku mendoakannya dengan harapan malaikat malam yang melayang-layang menembus cahaya di atas sungai ini akanmenyampaikan kemalangan itu kepada Tuhan. Aku tahu, di tangan-Nya berada kekuatan tertinggi yang mampu mengubah apa pun.   

Ketika bulan mulai redup, kutinggalkan cahaya. Kembali berjalan lalu bernyanyi dengan kidung tanpa kata dan suara. Kidung yang tak pernah kulupa lirik syairnya dalam hatiku. Ia adalah kidung sunyi untuk kekasih. Kidung sunyiku   adalah mata air dan air mata, tempat kesadaran siang serta kegelapan malam melepaskan dahaga. Di atas mata airnya tumbuh pohonan dengan keranuman buah, impian jiwa-jiwa yang lapar. Kidung sunyiku adalah gumpal awan yang melahirkan hujan memberi harapan kepada tanah kering agar ranting bertunas hijau menjadi rimbunan daun hingga burung-burung berteduh di bawahnya dan putik-putik bermekaran menjadi bunga.

Aku terus berjalan menyusuri malam ini hingga kutemui lagi batu cadas itu menyembul dari tepi telaga. Kabut-kabut bermuram durja melurupi permukaan beningnya, tak ada riak ataupun sedikit ombak. Sepertinya ia sedang berkabung, tak tampak pantulan gemintang di wajahnya.

Musim telah memenjarakan senyumnya di balik kabut-kabut itu. Musim cemburu jika ada musim lain yang akan bertandang mengitari telaga itu. Ia telah menjadi korban kesewenangan cinta. Bahkan ia tak boleh dikunjungi oleh embun yang merindukannya. Batu cadas itu bersedih melihat dua kemalangan menimpa buih dan telaga.

Malam makin tua, bulan tinggal sepenggal. Sepanjang jalan pulang, masih kupikirkan nasib buih dan telaga itu. Namun, demikianlah waktu memainkan perannya.

Di selasar pintu sunyi, malaikat di atas sungai tadi kembali melayang-layang di hadapanku.

“Betapa damai rumah sunyi ini, dan betapa bahagia penghuninya!”
Bagai penyair kasmaran ia bergumam sambil mengibaskan sayapnya kemudian pergi.

Aku memasuki sunyi, menemui bayanganmu yang sedang duduk di atas ranjangku. Aku jarum dan jadilah engkau benang, mari menyulam cahaya yang sobek  ini dengan cinta kasih-Nya. Agar malam ini dan malam esok tak ada lagi kesedihan yang kujumpai di luar sana!

Bayanganmu melayang kemudian melesapkan dirinya ke dalam diriku. Buih dan telaga telah mengajarkanku bagaimana kebahagiaan tumbuh dari kesabaran.

Nimas! Dalam rahim waktu, sesungguhnya cinta kasih sedang menenun gaun pengantin dari cahaya kebesaran-Nya untuk pernikahan terakhir engkau dan aku.

Salam untuk jiwamu!