Menuju Altar Sang Agung


Menuju Altar Sang Agung

Aku semakin jauh memasuki sunyi dan kurasakan engkau mengikuti sambil menginjak bayanganku.  

Matahari mulai terbit dari bibir pagi. Denting nadi telah menjadi nyanyian di telinga batinku, sendu kandil mata ini telah menjadi cahaya terang di setiap sudut jiwa. Itulah kerinduan dalam tiap denyut jantung. Dalam setiap perilaku, dalam setiap mimpi, dalam setiap sunyi, kutemukan rindu yang sama. Dan, engkau yang berada di belakangku, sibaklah tirai diri, ikutilah Dia. Kita sedang dalam petualangan yang demikian mengasyikkan!

Inilah pertemuan dua pribadi, dua raga, dua jiwa. Inilah pertemuan dan pergumulan batiniah. Lalu kita akan melampaui cinta kasih hingga tiba di altar pemujaan kepada Yang Agung dan menjadi sebuah pintu untuk memasuki penyatuan, keakraban antara aku dan engkau dengan keseluruhan.

Tinggallah sesuatu yang tak berwujud, seluruh keberadaan dan diri kita. Mari menjadi saksi terhadap kemesraan antara diri dengan seluruh kehidupan. Bila kita telah mampu menjadi saksi atas pertemuan diri dengan  seluruh  kehidupan,  maka kita melampaui diri sendiri dengan seluruh kehidupan, melampaui kedua-duanya. Maka diri inilah keseluruhan itu, diri inilah cinta kasih itu, diri inilah welas asih itu.

Kerinduan dan cinta bukanlah sekadar nyanyian kemesraan, aku memasuki keduanya dan membuka tirai misteri. Saat kerinduan hanya sebatas khayal yang bermain dengan bayangan, aku tak akan menemukan cinta kasih.

Kita jangan pernah menjadi licik, dengan menciptakan cinta kasih yang pura-pura. Sehingga merasakan hilangnya cinta kasih atau surutnya cinta kasih setelah kerinduan terpuaskan. Cinta kasih murni tidak berada di depan pertemuan, tetapi di belakang perjumpaan.

Kini kita mengayun langkah dengan perlahan tanpa tanpa belenggu, tanpa jeruji pemasung jiwa. Mari berjalan dengan penuh kesadaran akan cinta kasih, cahaya semata wayang dalam gelapnya kehidupan.

Mari menelusuri setiap sudut kehidupan, dan menyaksikan Yang Agung ada di mana-mana, kita tak boleh melawannya. Tetapi, tak boleh juga diikat oleh apa pun, lewatilah!  Sebab keindahan masih bertaburan di hadapan kita, kenikmatan bertebaran di jalan kita, kebahagiaan menanti di istana sunyi!

Nimas! Kita mesti tetap melangkah karena Yang Agung mungkin berdiri di balik apa saja, maka berdamailah dengan apa saja. Hidup ada di mana-mana.

Salam rindu!