Waktu yang Menjadi Engkau

Tak terasa roda waktu bergulir dengan begitu cepat melindas peristiwa demi peristiwa. 

Hari ini aku tidur yang banyak karena raga yang mulai rapuh termakan rayap-rayap zaman. Aku bangun dengan rambut kusut, lalu menghampiri meja yang di atasnya menanti kopi sisa pagi tadi. Entah, tiba-tiba sebuah peristiwa kuingat. Peristiwa tentang air mata. Masihkah ingatkah sebuah percakapan, engkau begitu isak dalam tangis dan sesekali mendesah mengatur napas yang tersengguk-sengguk?

Saat itu aku hanya diam, menerka air matamu tanpa mampu menyekanya. Kubiarkan hingga tetes terakhir, air mata yang mendekatkan kita.

Hingga senja yang indah hari ini pun tak mampu menjadi jarak antara aku dan air matamu itu. Ia menghapus garis tipis antara hujan dan awan. Hujan yang dari rahimnya akan lahir pelangi, dan awan jiwaku yang selalu rindu untuk bergerak mendekati jiwamu hendak melebur menjadi hujan belia.

Saga di barat kaki langit kian bara. Angin, pasir, buih, dan gelombang sebentar lagi berseteru dengan kegelapan. Kulihat permukaan air laut keemasan, tapi aku malah seperti sedang menyaksikan telaga matamu. Ah, mengapa semua harus menjadi engkau?

Senja hari ini telah pamit. Sebelum beranjak, kupejamkan mata dan lagi-lagi engkau ada di sana melambai tangan memanggilku agar kembali ke istana sunyi.

“Tunggu aku di penantian redamu, Nimas!