Sehelai daun cekung terjatuh dari langit ruyung mengikuti ke mana angin menikung, kadang meliuk terhuyung-huyung ketika penghujan menelikung atau terik menatap sayang dan mata pun lekung.
Tak perlu menafsirkan aku seumpama bening setara embun sebab jatuhku di atas mata air tempat sungai-sungai berhulu.
Aku sehelai daun cekung tanpa dayung tiada setiang layar, ke muara mana hendak berlabuh? Riak-riak kecil hingga benturan bebatuan cadas hanya secebis elegi, pemanis akan tawar rasa air. Pada tasik mana hendak kusandarkan senyum. Pada lautan aku risih bising ombak?
Tak guna memintaku kembali ke ranting langit ruyung, telah kuanggap patah tangkai. Biarlah kunikmati siang malam sebagai perjalanan bisu.
Di setiap kelokan kucatat kisah, di setiap ceruk sungai kutulis harapan. Maka jadilah engkau arus, atau mungkin cukup menjadi angin yang mengantarku dalam perjalanan ini. Kita jangan lagi berangan menjadi awan, warna pelangi, atau bias purnama.
Aku telah cukup menjadi sehelai daun dan engkau pun cukup menjadi angin yang menemaniku.
Mari kita teruskan perjalanan ini. Lihat di punggung perbukitan itu matahari menjadi tuhan. Di lerengnya ada pohon juga menjadi tuhan!
Tuhan di mana-mana. Di pinggir sungai yang kita lewati sederet batu nisan pun menjadi tuhan. Tapi mereka bukan tuhan kita, kita telah berada dalam hati Tuhan.
Di sebuah perkampungan orang-orang berlapar diri untuk wanita bernama bidadari, ada juga yang saling bunuh!
Beruntung kita di atas air, bukan di atas tanah. Kita tak perlu takut kepada waktu yang menjadi musuh bagi mereka. Apakah itu adalah takdir?
Adakah benar kita berjalan dalam kuasa takdir? Jika kita menjadi semata benda, takdir akan menelikung hingga terjadilah perbudakan. Benda adalah zat, tak ada kebebasan untuk sebuah zat. Ia harus berjalan dalam hukum sebab akibat.
Kita telah menjadi cerah tanpa meminjam cahaya matahari. Sebab di dalam hati-Nya tak ada kegelapan. Tangan-tangan hukum sebab akibat tak mampu menjangkau kita lagi, sebab kita berada di luar alam sebab akibat. Alam yang tak dapat diramal. tak dapat menceritakan sesuatu tentangnya. Di mana masa depan hanya bayangan dari waktu di masa silam.
Jika kita hidup hanya bermula dari rahim, berarti kematian sudah tercatat saat tangisan pertama. Adakah telinga yang mendengar sebuah tangisan sebelum menghuni rahim? Engkau yang angin terlahir dari rahim yang mana?
Lupakan tuhan mereka dan perkampungan itu, tentang waktu yang hanya detik galau jarum jam, detak tak jemu berputar ke satu arah yang sama. Cukup kita setia dengan kesadaran dalam keberadaan. Tiada yang tertinggal, tak ada yang hilang dari apa yang kita lewati.
Sehelai daun jatuh dari tangkai langit dan kesetiaan angin, menjadi kekasih dalam hati Tuhan.
