Musik Paling Merdu

Manakala malam membentang jubahnya yang hitam, kesepian mulai merayap pelan.

Nimas! Kesepian itu datang tanpa khayalan terindah tanpa musik yang merdu. Tetapi tidak pada sepiku, sebab ada bayang-bayangmu. Ada suara yang syahdu mengiang di telingaku serupa seruling malaikat di pintu surga. Adalah suaramu!

Kuingat dan akan terus kukenang suara itu. Suara nyanyian wanita yang jiwaku begitu dekat dengannya, bahkan hatiku separuh adalah dirinya. Nyanyian yang menjadi jeda percakapan senja dan malam di batas cakrawala ketika layung mulai memerah saga di ufuk barat. Nyanyian yang akan abadi walau senja berlalu.

Seribu bulan memberiku purnama tak akan pernah mampu mengusir ingatan tentang gemulai bibirmu yang lembut bernyanyi untukku.

Suara itu menjadi musik menghuni dada kiriku. Musik yang kudengar dari bibirmu sejernih butir air, selembut sepoi angin, sesejuk embun menerpa wajah dedaunan. Musik yang kudengar tidak dengan telinga tetapi dengan hatiku,  membawaku melanglang jauh ke dunia tanpa kata-kata. Musik yang menuntunku kepada kegilaan, mengungkap misteri-misteri kesunyian. Musik yang membangunkan tidurku dari sepi yang panjang dan gelap.

Ketika malam belia mengundak hitam, terdengar suaramu datang bertamu di kaca jendela kamarku bersama tetes embun. Maka kembali kucoba memaknai kalimat demi kalimat yang kaukirim, dan kubaca kata-kata yang rindu dari lirih embun dingin itu. Betapa suaramu adalah musik yang menjadi pentas kehidupan bagiku. 

Teruslah bernyanyi, Nimas!

Biarkanlah nyanyian itu menjadi desah napas dari kerinduan, menjadi detak renyut jantung yang menasbih namamu.