Sepotong Pesan

Perihal waktu yang kutulis di wajahmu dalam lembar-lembar buku bersampul cinta, ia tak akan pernah sanggup meninggalkan ujung pena yang menjadi penyangga bagi mataku ketika dingin malam membekap jantung. Dari rahimnya menetes dawat hitam tersusun menjadi bait-bait puisi teramat putih. Dan ketika wajah-wajah itu pudar padam lahirlah air mata!

Tetapi rindu tetap saja tak terbasuh bertanyalah aku kepada sunyi. Di mana harus kuletakkan belai ketika puisi putihku dirundung merah cakrawala paling senja?

Sementara, waktu terus saja menulis. Mencatat terik siang, pekat malam, rintik hujan, pun kisah antara engkau dan embun sebelum pagi menjadi buta. Dalam salah satu baitnya kutitip sepotong pesan untukmu. Masuklah ke dalam sunyi, temui Aku dan Dia di sana!

Desah napas mengikuti detik demi detik bersama harapan dari musim ke musim dan kita adalah dua angin kesepian bermunajat di bawah butir debu.

Engkaukah yang hinggap di kelopak aster jingga?

Nimas, tunggu aku membawakanmu kabar tentang mitos lembah-lembah indraloka dan bukit-bukit adnan. Tempat jiwa kita akan bersanding dalam pernikahan abadi menikmati hidangan Tuhan!