Kejora

 


kejora, ke mana engkau?

berkali-kali layarku sobek

dikoyak prahara angin

aku butuh arah ke pantai!

 

kejora, ke mana engkau?

aku biduk di atas lautan, berlayar

mengikut ke mana angin berarah

ombak adalah takdir yang pasti

pasang surut silih berganti

tak siapa jua mampu menunda

 

hari ini aku masih manusia, dan

kapan saja akan menjadi arwah

merelakan tubuh menjadi bangkai

melewati waktu yang tak habis

berjalan sendiri dalam sepi

 

kejora, ke mana engkau?

beri arah hendak kutuju

agar tak sesat di samudra ini

biar kulipat jarak sebelum malam

ketuk pintu rumahku di pulau seberang

 

Luwu, 28 Februari 2019

 

Dua Rindu

 


kepada langit kutanyakan rindu

dengan kata-kata penuh bisu

agar kupahami segala biru

menggigil dan ragu-ragu

 

sejak mula kata langit telah kujunjung

awan, bintang, bulan, dan matahari tak pernah paham

apa yang kurindui tak ia rindukan

yang tak kurindui ia rindukan

: perkampungan asing!

apa yang kaupahami pada sebutir air yang kupungut dari sisa gerimis di punggung rerumputan?

 

apa yang kaupahami pada angin semilir yang mengembus hingga ke jantung merahmu juga ke jantung putihku?


sebutir air dan angin semilir kugenggam manakala ragaku batu tergeming hening di malam bening tanpa denting

rindu yang bisu, yang biru, yang ragu-ragu kubawa berlayar di atas biduk selembar kumulus menujumu

: melaju seperti takdir!


ketika kemuning menukik jatuh di atas pasir dermaga senja

engkau benar-benar telah menjadi langit

istana tempat segala sajakku telentang membuang impian

dan, tidurlah aku!

Sajak Langit

 


kepada langit kutanyakan rindu

dengan kata-kata penuh bisu

agar kupahami segala biru

menggigil dan ragu-ragu

 

sejak mula kata langit telah kujunjung

awan, bintang, bulan, dan matahari tak pernah paham

apa yang kurindui tak ia rindukan

yang tak kurindui ia rindukan

: perkampungan asing!

apa yang kaupahami pada sebutir air yang kupungut dari sisa gerimis di punggung rerumputan?

 

apa yang kaupahami pada angin semilir yang mengembus hingga ke jantung merahmu juga ke jantung putihku?


sebutir air dan angin semilir kugenggam manakala ragaku batu tergeming hening di malam bening tanpa denting

rindu yang bisu, yang biru, yang ragu-ragu kubawa berlayar di atas biduk selembar kumulus menujumu

: melaju seperti takdir!


ketika kemuning menukik jatuh di atas pasir dermaga senja

engkau benar-benar telah menjadi langit

istana tempat segala sajakku telentang membuang impian

dan, tidurlah aku!