Sore jam lima di taman bunga. Tubuh kecil itu duduk di rumput bercengkerama dengan kupu-kupu kusam yang hampir kehilangan warna.
“Untuk siapa kaugenggam duri, mengapa kausimpan luka, anakku? Pulanglah, sebentar lagi malam tiba!” kemudian ia pun terbang dengan sayapnya yang renta.
Tubuh kecil itu pulang dengan senandung, ia selalu riang gembira seakan tak punya luka. Walau tak tahu di mana ayahnya.
Malam jam delapan di kamar tidur. Tubuh kecil itu bermain boneka dekil sambil sesekali melongok di jendela tanpa kaca. Di bawahnya, sebongkah batu diam bertulis nama yang entah.
“Hei batu, mari bermain denganku. Lihat di perutku ada bulan kerlap-kerlip pasti engkau kegelapan di situ, mari bermain cahaya!”
Ia meliuk-liuk sepanjang malam mengikuti isyarat ganjil dari sang angin. Tubuh kecil itu akhirnya tertidur pulas di bawah daun kembang kertas mungkin sembunyi dari dingin malam.
Hingga kokok ayam mengusik mimpi-mimpinya. Pagi jam enam embun meriap. Tubuh kecil itu hampir padam cahaya. Embun mengelus-elus anak rambutnya. Ia bangun dengan senyum di bibir yang mungil.
“Bangun, Kawan. Bangunlah! Biarkan mimpimu lesap di beningku ayo jemput pagi dengan nyanyian putih!”
Tubuh kecil itu berdandan sebegitu cantik di pintu pagi, menanti kupu-kupu kemarin.
Sekelompok semut beriringan mengusung keranda mayat menuju beringin di samping jendela. Jenazah itu dikubur di samping batu tua tak ada nama tertulis di nisannya. Saat itu beranjak siang. Tak ada matahari, awan mendung. Tubuh kecil itu kembali melongok dari jendela memperhatikan wajah semut-semut yang muram.
“Kami menemukan tubuhnya terbujur kaku di taman. Azan subuh tadi mengantarnya menemui Tuhan. Ia berpesan, engkau jangan menangis!”
Semut pun kembali dalam barisan, lalu pergi tanpa lambaian tangan. Meninggalkan anak kupu-kupu yang meliuk gontai di antara dua batu nisan, terpekur di atas tanah gembur. Tak ada air mata.
“Ibu, engkau tinggalkan aku seperti ceritamu tentang ayah yang meninggalkanmu. Tapi, ke mana ayahku pergi?”
Diambilnya tetes embun terakhir untuk menyiram pusara kupu-kupu yang dianggapnya ibu sejak mula lahir. Tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup dari bawah pusara yang setengah basah oleh embun.
“Anakku, engkau tengah duduk di antara dua nisan, di sini ibumu dan di sebelah kuburan ayahmu jangan bersedih! Sebab dunia ini bukan tempat bersedih. Jadilah kunang-kunang yang selalu bergembira, walau hanya memiliki sekuntum duri dan sepasang luka!”
Tubuh kecil itu mengangguk pelan. Dipeluknya kuntum duri, dikecupnya sepasang luka. Meliuk-meliuk menuju taman tempat ia bermain rumput.
Aku pun terbangun dengan mata yang basah!
