Mata yang tak mampu lagi melihat sesuatu dalam kesibukan dunia kecuali apa yang ada dalam sunyi. Hanya menyaksikan kejadian jiwa kita, apa yang dilihatnya menjadi bagian dari sunyi itu sendiri.
Kemarin, mata
itu menyaksikan sesuatu tentangmu! Tapi tak ingin mengatakan padamu, biar
menjadi rahasia perjaka mimpi, entah aku bisa atau tidak. Karena tetap saja aku
butuh mata lain untuk bercerita dan berbagi kesaksian.
Setidaknya
mata itu berkata.
“Lihatlah di sana, dinding-dinding kesunyian menampilkan lukisan wajahmu dalam bingkai
langit!”
Detik menggelinding di ujung jarum jam, lukisan-lukisan wajahmu menggantung di mataku. Lukisan itu memperhatikan tingkahku, aku mendekatinya. Ah, ia membelakangiku tiap aku tepat berada di hadapannya. Lalu kupilih beringsut beberapa depa sedikit menjauh, biarlah. Tak apa sedikit jauh, asal mata ini dapat menikmati indah lukisan wajah itu hingga musim dingin tiba. Ia akan memintaku untuk memeluknya, kutahu ia takut pada dingin.
Dingin itu
adalah sebuah kesakitan, ia merasuk hingga ke dalam tulang-tulang. Menikam
bagai kematian. Tetapi, kesakitan-kesakitan dalam sunyi adalah nikmat teramat
berharga.
Kasakitan-kesakitan telah mempertemukanku dengan kebahagiaan. Aku mencintai kesakitan-kesakitan dan membuat jiwaku tenteram, di saat itulah damai kunikmati. Aku menemukan jiwaku lebih akrab dengan yang tak nyata daripada kebendaan.
Dalam
kesakitan-kesakitan itu aku menjadi angin yang mengembara menuju lembah-lembah
dan gunung-gunung bermitos. Kesakitan-kesakitan yang mendekatkanku dengan
senyuman.
Nimas! Tahukah engkau, betapa rinduku ingin melahap habis kesakitan-kesakitan di mata sunyi kita. Hingga kesakitan-kesakitan itu menjadi kekuatan paling kekar menghadapi kebisingan ruang dan waktu.
Di ujung tulisan ini, kutitip salam kecupku untuk kedua matamu!
