Selepas purnama mengambang di permukaan awan beberapa malam yang lalu, kujalani malam-malam yang sulit. Purnama itu mengingatkanku akan sesuatu dari matamu. Di mana harapan-harapan serupa pendar purnama terhalang kabut tebal, hingga tak terbaca oleh pelukis mana pun. Namun, dengan menyingkap sedikit celah di antara gumpal awan itu, kulihat bening yang kemilau yang mengajakku masuk dalam hening.
Kian hening, makin tenteram aku menerka dan menikmati kebeningan itu, makin dekat rasanya diri ini, dan makin banyak kudapati ekspresi-ekspresi baru dari keberadaan. Aku mulai bercinta kasih, ini menjadi jalan yang kupilih untuk memahami dan merunut kehidupan. Dan ia tidak akan berubah menjadi penolakan, karena dia bukan daya tarik.
Nimas! Telah sampaikah rindu yang kuutus lewat cahaya bulan malam ini. Pada rindu yang mana akan kauletakkan kesakitan menjadi nikmat?
Ketika bulan surut cahaya dan gemintang hilang satu- satu, mungkinkah rindu itu menjadi obor suci yang mengantar ayunan langkahmu ke dalam sunyi. Rinduku tak akan tumbang hanya karena kegelapan!
Aku dan engkau tak pernah saling meminta rindu, meminta cinta kasih itu. Kubiarkan semua dengan apa adanya. Karena meminta sesuatu dari orang lain, selalu menciptakan perbudakan, penderitaan, pertentangan.
Engkau dan aku hendaknya cukup dengan kita, bersama kesadaran yang adalah di mana seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri. Aku atau engkau telah menjadi suatu lingkaran, sendiri. Lingkaran yang membuat kita lengkap. Membuat lingkaran yang lengkap dengan cinta kasih, aku dan engkau, pria dengan wanita. Benang tanpa ujung!
Pada saat-saat tertentu garis-garis akan bertemu, tetapi ketika hampir bertemu, perpisahan dimulai. Hanya bila menjadi sebuah lingkaran yang benar-benar lengkap, yang telah cukup dengan kita, mulailah cinta kasih berkembang. Setelah itu apa pun yang datang mendekat, kita akan mencintainya. Itu sama sekali bukan perbuatan, karena perbuatan adalah kesengajaan. Hakikat keberadaan, hakikat kehadiran, adalah cinta kasih. Cinta kasih mengalir melalui diri.
Cinta kasih laksana sekuntum bunga di padang sahara. Mungkin tiada yang tahu bahwa bunga itu berkembang dan menyebarkan semerbak wangi, tetapi ia akan memberikan. Tidak kepada seseorang tertentu, ia hanya memberi. Bunga telah berkembang, sehingga wanginya ada di situ. Seperti wangi yang dikabarkan angin kepadaku, aku mencium aroma semerbak dari jiwamu hingga aku menerimanya. Maka sudah semestinya jika aku menjagamu, menjaga kewangian itu, menjaga cinta kasih itu.
Aku tak sedang menjadi sendiri, aku melebur bersamamu menjadi kita!
