Sejak kusaksikan mata itu, aku akrab berpikir dan bahkan menerka ke mana aku mesti mencari yang sama dengan teduhnya? Yang setiap tatapan adalah saat termanis dan terindah dalam hidupku. Bahkan kesunyianku, tertulis dalam beningnya.
Ah, tak bosannya aku menceritakan perihal ini. Seperti merah permukaan air laut ketika purnama beranjak sejengkal, begitu merahnya keinginanku mengecup kedua matamu.
Aku tahu engkau tak akan meluputkan sebuah senyum untukku setelahnya. Senyum yang melumat habis mimpiku tentang surga. Senyum yang malu laksana gemulung ombak mengantar buih ke pesisir, sementara aku pasir. Pasir yang tak peduli siang dan malam, terik dan hujan. Untuk sebuah penantian, menunggu sang buih membawa kabar tentang kedap biru lautan dan prahara angin. Ketika laut pasang aku memelukmu sepanjang pantai menyesapi manisnya pertemuan.
Saat laut surut, engkau menjauh dengan butir-butir air mata dalam doa yang melayang ke langit. Sementara aku terdiam dan memulai penantian baru.
Ya, sebuah penantian! Menanti nyanyian manja sang buih merisalahkan perihal pecahnya yang melesap di dadaku. Pada kesunyian tertentu, suaranya selembut desau angin jatuh. Menjadi musik paling merdu di telingaku.
Cinta mendekatkanku padamu, walau kebimbangan terkadang membawaku jauh ke nirwana hingga jatuh tenggelam ke dasar samudra kesendirian. Saat itu keputusasaan menghampiri, serupa bayangan kematian yang siap menerkam harapanku. Namun, panggilan jiwamu selalu menarikku untuk kembali menemuimu di seberang cakrawala di mana senja berseteru dengan malam. Kutinggalkan mimpi-mimpiku sebelum malam tiba, sebab engkau bukanlah mimpi. Engkau adalah bagian dari jiwaku!
Nimas! Jika engkau menjadi mimpi, biarlah aku tertidur selamanya dan inilah kematianku. Karena engkau telah menjadi rindu yang tak tertunaikan dengan kecupan yang paling agung sekalipun.
