Gerhana itu telah berlalu sisakan pendar lamat-lamat di awang-awang, ini yang ke entah!
Bening nektar pupus wangi menetes jatuh di selasar malam. Tirus cahaya tikam sunyi ketika embun pamit satu-satu hendak tunaikan janji temu kepada daun.
Pekat selubung ngilu terurai setelah kesah hunjam resah. Buhul waktu mendera mendung yang urung merinai gerimis.
Kutemui engkau yang tiada, dalam ruang-ruang hampa. Sebab mata telah pun renta dan tak lagi unggun di peristirahatan senja. Serupa awan repih mengikuti embara angin.
Biar kunikahi hitam bayang tebing-tebing batu, yang lebih memahami taksa musim. Sebab mimpi hanya bangkai-bangkai kegelapan mengubur diri di pelataran pagi.
Lasusua, 4 Februari 2018
