Obor Suci

Nimas, maafkan aku yang seakan mengabaikanmu akhir-akhir ini. Memang, bergelut dengan naskah-naskah yang hendak menjadi buku telah menyita waktuku. Sungguh, maafkanlah!

Pada malam-malam bisu yang dingin, ada banyak hal mengisi kepalaku. Bahkan sampai harus kembali menelan beberapa butir pil untuk memulai tidur. Tetapi, malam ini aku tak ingin tidur sebelum menyapamu. Sederet harapan membuatku tersenyum di antara kegelapan.

Kita pernah bercerita tentang cinta tak bersekat tak berbatas. Dan, perihal cinta yang hadir sebelum berdekatan. Semakin dekat melalui senyum dan air mata.

Aku mencintai senyum dan air mata, hanya dengan cinta kita akan mengerti pahit serta manisnya kehidupan. Kemuliaan akan selalu hadir pada jiwa sedih yang mampu menyanyikan lagu pujian cinta.

Dengan apa manusia merasakan keindahan cinta jika belum bertemu dengan kesedihan, kegelisahan, kegundahan, dan perpisahan?

Adakah yang lebih sakit dari derita sebuah perpisahan?

Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa kesakitan terhebat adalah janji yang ingkar! Tetapi, janji yang ingkar akan luluh oleh pemaafan. Sementara perpisahan tak luluh oleh apa pun.

Cinta selalu ada di balik sebuah perpisahan. Cinta dengan kekuatannya membuat kita bertahan dalam perih pedih sebuah luka, membuat kita bersyukur dalam kewangian senyuman.

Pemahaman yang salah terhadap cinta akan melahirkan luka, kenalilah apa kesedihan itu maka engkau akan mengenali cinta. Telanjangi dirimu dari luka-luka! Sebagaimana matahari, bulan, bintang.  Mereka  benar-benar  telanjang, hingga dari matanya ada cinta yang bercahaya. Adalah cinta yang memberi kehidupan kepada semesta.

Sebisa mungkin engkau mesti membaca apa yang tak kutulis, mendengar apa yang tak kusuarakan, mengenali aku dengan apa yang tidak engkau lihat.

Nimas, sesungguhnya di sanalah sebenarnya aku. Bukan aku yang berada di hatimu,   tetapi engkau telah menghuni ruang-ruang hatiku yang paling sunyi. Di mana cinta menyalakan obor suci menerangi malam-malam yang gulita.      

Salam kepada hatimu!