Sekulum senyum kita berdua, sepilu lara kita bersama. Dalam dada melapang diam ketika mimpi selayak lupa.
Tak kebas kuperam asa yang beku menyekap jantung.Meski napas hanya perjalanan sunyi detak nadi. Aku memilih tiada, ketimbang bersetubuh gelebah rindu. Mengapa ada malam, jika gelap tak kenan berbagi kisah? Ataukah, aku begitu rapuh menyandang petaka saat nasib bertutur tentang biru yang basah di pangkal senja?
Silam tak kuingkari!
Nan lampau masih kuingat!
Sejarak tawang doa kumantrakan,
tersadar jiwa tak kuasa berkilah.
Jika semesta hanya mengikhlaskan segenggam cahaya untuk jalanku! Maka
segenggam itu adalah cinta.
Lasusua, 20 November 2017



