Engkau Segenggam Cinta

 


Sekulum senyum kita berdua, sepilu lara kita bersama. Dalam dada melapang diam ketika mimpi selayak lupa.

Tak kebas kuperam asa yang beku menyekap jantung.Meski napas hanya perjalanan sunyi detak nadi. Aku memilih tiada, ketimbang bersetubuh gelebah rindu. Mengapa ada malam, jika gelap tak kenan berbagi kisah? Ataukah, aku begitu rapuh menyandang petaka saat nasib bertutur tentang biru yang basah di pangkal senja?

Silam tak kuingkari!
Nan lampau masih kuingat!
Sejarak tawang doa kumantrakan, tersadar jiwa tak kuasa berkilah.

Jika semesta hanya mengikhlaskan segenggam cahaya untuk jalanku! Maka


segenggam itu adalah cinta.

Lasusua, 20 November 2017

 

Tertikam Sesal

 


Empat puluh warsa dalam gelinding dosa, alpa bersimpuh di altar-Mu. Gemerincing dunia pekak di telinga hingga tak kudengar lagi ayat-ayat putih, betapa aku menghamba pada hitam.

Silau mataku terpana kemilau fana. Terpenjara dinding syahwat yang tercipta dari wangi belahan dada iblis betina mengekang ingatku kepada lima tiang suci penyanggah waktu. Aroma khamar akrab membuai mimpi, serupa bening jahanam yang kutanam dalam rahim kupu-kupu gemar telanjang. Kepul asap madat kuembus bersama tawa menusuk jantung malam, ingar bingar desahan mengumpat derit ranjang.

Empat puluh tarikh dalam ada yang tiada, terlupa napas diberi siapa. Jika ada secebis angin mengantar pinta ke hadirat-Mu, kucebur diri bersama ruah air mata sesal.

Lasusua, 23 November 2017

Rindu Itu Kita

 


Rindu itu pilu, Kekasihku!
Serupa mengemas bara di genggaman yang tak padam meski kausirami setelaga air mata. Tetap nyala, semakin erat meremasnya. Kian bara ia membakarmu!

Rindu itu indah, Kekasihku!
Serupa oase bening di ketandusan sahara yang semakin kauminum, kian dahaga engkau meneguknya. Sebuah temu, tak akan memuaskan rasa ingin jumpa di esok hari.

Rindu itu adalah kita, Kekasihku!
Sejak engkau dan aku melebur angan dalam ijab mantra cinta pada sebuah ketika. Di mana detak nadi saling pagut merapal doa suci di hadapan-Nya. Bintang gemintang menjadi saksi saat kumaharkan bulan seperempat purnama sebagai tanda pernikahan abadi. Jadilah kita dua tangkai sebatang nyawa. Tersenyumlah!

Lasusua, 29 November 2017