Pada hening malam tua kulesapkan gulana meremas harapan. Tengadah wajah terpikat ranum cahaya begitu pukau, rembulan malam
Selarik bias kusimpul di bulu mata sekadar menghapus rona gelisah dalam diri menujum doa-doa temu. Mungkinkah gundah ini akan memudar padam oleh pendar-pendar saga purnama?
Rembulan malam, kabarkan kepadaku tentang mitos pencinta yang rela ikhlaskan segala demi kekasihnya meski raga terperangkap jeruji dunia. Dan ketika petang berlalu mengusung mimpi-mimpi ke peraduan lelap, rebahlah di dada terakhirku!
Aku, kelana hilang arah! Maka kupilih mengayun langkah menujumu walau kutahu tiada ‘kan mampu menyentuh indahmu itu. Namun, setidaknya engkau mendengar keluh rindu dari hitam bayanganku. Hingga saat napas pamit dari hayat, aku tersenyum dalam pelukanmu.
Lasusua, 28 Februari 2017


