Pinta sang Kelana

 


Pada hening malam tua kulesapkan gulana meremas harapan. Tengadah wajah terpikat ranum cahaya begitu pukau, rembulan malam

Selarik bias kusimpul di bulu mata sekadar menghapus rona gelisah dalam diri menujum doa-doa temu. Mungkinkah gundah ini akan memudar padam oleh pendar-pendar saga purnama?

Rembulan malam, kabarkan kepadaku tentang mitos pencinta yang rela ikhlaskan segala demi kekasihnya meski raga terperangkap jeruji dunia. Dan ketika petang berlalu mengusung mimpi-mimpi ke peraduan lelap, rebahlah di dada terakhirku!

Aku, kelana hilang arah! Maka kupilih mengayun langkah menujumu walau kutahu tiada ‘kan mampu menyentuh indahmu itu. Namun, setidaknya engkau mendengar keluh rindu dari hitam bayanganku. Hingga saat napas pamit dari hayat, aku tersenyum dalam pelukanmu.

Lasusua, 28 Februari 2017

Sebelum Patah

 


Semisal syair kugubah engkau. Rimbun kata membunuh resah saat bening mata hunjam dada. Intikad mimpi kuhela jua. Entah, inikah anugerah cinta?

Aku semata pena! Segurat tinta kujadikan kalam. Telimpuh harap pada huruf-huruf yang bermesraan. Umpama sufi merunut doa di malam-malam tua. Terpukau hayat membaca kalimah rindu dalam ayat-ayat sepi, kuterjemahkan dengan napas. Ijab gemintang sepertiga malam meminang langit dengan cahaya dari jantung putihnya.

Aku dan engkau adalah dua jiwa tak hirau raga menuju langit yang sama, meski berbeda awan. Segulung mendung bukan gelap halang pandang. Di antara dua kening ada bulan sedang purnama. Izinkan kukecup bibirmu sebelum hujan patahkan rindu di sudut mata!

Lasusua, 1 Maret 2017

Mawar Setangkai

 


Engkau mawar menyimpan wangi mengakar rapuh pada gembur tanah hitam. Lahir dari pernikahan dua musim. Mekar memukau pagi, rekah menyulam siang, tidur memeluk embun ketika malam mengirim dingin.

Terlipat warna pada lembar-lembar kelopakmu, di sana kautawan harapan sang pemuja. Seberapa purnama kauabdikan diri pada tatap pengelana sesat?

Engkau dan aku akrab berbagi riwayat yang luka, tentang kucur darah telapak penggenggam terpikat fana. Namun, kubiarkan angin menjadi jarak. Tak akan kudekap tawa berujung pilu.

Wahai mawar setangkai!
Dosakah mata menebar sangka pada runcing di sekujur tangkai? Jika durimu selindung kutuk, biar kuterpasung hasrat dalam belukar paling sepi sampai menjadi batu.

Lasusua, 8 Maret 2017