Malam ini bulan separuh cahaya. Seperti matamu selepas perbincangan kita terhenti di malam-malam tua itu.
Pada bagian bumi lain ada yang berfilosofi bahwa bulan adalah perlambang kesedihan. Entah bagaimana mereka menafsirnya. Tetapi
bagiku tidak, bulan itu simbol kasih sayang. Ia begitu cantik, tak ingkar
janji, tak membawa bencana, ia ikhlas memeluk bumi dengan jemari cahayanya.
Setia walau tahu waktu tak akan mempertemukan mereka.
Kasih sayang laksana bulan, jika kehilangan cahaya maka ia kegelapan. Tetapi kegelapan itu tak membuatnya mati, ia akan menyendiri menunggu sinarnya kembali utuh.
Ketika sebelah hatiku terluka, kasih sayangku tak hilang. Aku akan menyendiri dalam sunyi melewati malam gelap penuh misteri hingga rasa sakit dari luka itu tiba pada kulminasinya. Satu luka menjadi seribu kekuatan untukku menerima luka lain di esok hari. Demikian malam begitu banyak menempa jiwaku sebagai petualang yang kelana ke arah entah. Namun, tetap pulang dengan cinta.
Jika saat ini engkau dalam kamar. Beranjaklah duduklah di balik jendela, lihat di langit sana! Saat mata yang kucintai itu bersitatap dengan rembulan, tidakkah kaurasakan kerinduan mendetak di jantungmu? Hanya saja jangan kaubawa bingkai jendela kamarmu ke langit karena sesungguhnya langit tiada berbingkai. Sebagaimana malam yang telah lalu jangan kaubawa ke malam ini. Sebab, bulan malam ini dan malam esok akan melesapkan sesuatu yang lebih indah dari malam kemarin!
Jangan bingung! Berupayalah melampaui pikiran itu, karena aku tak di sana. Aku ada di antara tidur dan terjagamu.
Selamat malam!
