Seribu malam
mungkin saja bertabur bintang bermandi purnama. Tetapi apalah
artinya sebuah malam jika tanpa kegelisahan, kegelisahan yang nikmat. Gelisah
yang mengantarkan jemariku berloncatan di
atas buku-buku puisi.
Kegelisahan itu mutiara, Nimas!
Seperti
malam-malam yang
telah berlalu, sejak menemukan engkau dalam jeruji kokoh yang tak
kunamakan nasib. Sejak itu
pula aku kembali akrab berlama-lama berhadapan dengan susunan abjad dan kata-kata.
Pada kulminasi malam tertentu, aku masuk dalam keheningan meninggalkan kata-kata serta bahasa sampai aku terlempar dari diriku sendiri ke sebuah alam nan luas, yang kusebut sebagai sunyi. Di mana embus angin musim dingin dan terik mentari musim panas tak mampu menyentuhnya.
Dari sana, dari sunyi itu kukirim kecupan untuk kedua matamu, jantungmu, hatimu, lalu bibirmu. Kumohon jangan engkau pertanyakan tentang kecupan-kecupan itu! Karena ia tak kusandingkan dengan kata atau bahasa.
Jangan pernah cemburu kepada malam yang begitu kucintai, kepada batang-batang rokok yang kuisap, kepada ampas-ampas kopiku! Merekalah yang tahu bagaimana kegelisahan itu saat relungku penuh dengan bayang-bayang rupamu. Bayang-bayang wanita yang menyebabkan Tuhan mengutukku menjadi gila, kegilaan yang membuat terkadang lupa pada tulang-tulang berselimut daging membungkus jiwaku.
Mula itu pula aku hanya tahu semerdu apa sunyi menggendingkan lagu-lagu pujian cinta. Bahkan merdunya tiada mampu kujadikan diksi dalam puisi.
