Seribu Rindu

Nimas, waktu terus saja berlalu!

Ini senja ke entah setelah senja demi senja yang kemarin berguguran tanpa menyisakan cahaya. Mungkin ia tak tahu bahwa cahaya akan menjadi napas sang malam. Sebagaimana engkau yang adalah napas bagiku, meski berselindung di bawah butir debu. Mengasihi rontok daun layu dengan cinta sebelum ia berkalang tanah pilu.

Engkau cahaya dalam kastil sunyiku. Menjadi obor suci saat jalanku gelap berliku, pun ketika hitam putih berlalu menorehkan sayat sembilu di telapakku. Hingga kudapati purnama memahat sinar di setiap pojok paling sepi, jiwaku. Ini hakikat sebuah perjalanan!

Ikhlaskan aku mencintai seluruhmu yang tak bertapal batas pada sebuah temu. Jikapun pertemuan itu tiba, jadikan ia sebagai rindu yang melahirkan seribu rindu belia. Sekalipun rindu itu berbayang semu, menanggung pilu aku tak jemu. Aku tidak ingin mati sebelum cinta mengenalmu. Sebab engkau akan mengalami penderitaan teramat perih.

Jika ternyata esok kematian lebih mencintaiku daripada engkau, jangan meneteskan air mata.  Karena aku tahu, air mata itu bukan untukku!

Ragaku mungkin saja habis terurai tanah hitam. Namun, cintaku tetap hidup dan bertakhta di singgasana kerajaan sunyi. Di mana hanya ada engkau, aku, dan cinta.

Sampaikan salamku untuk penghuni dada kirimu!