Kecupan di Matamu

Selamat pagi, Nimas!

Sebuah kecupan termanis kusemat di kedua matamu. Pagi yang berembun, masih riang dengan kicau burung di ranting pohon samping jendela kamarku.

Pagi tadi aku bangun merelakan engkau lesap bersama mimpi. Kusegerakan membuka tulisan-tulisan yang pernah kutulis untukmu hingga pada sebuah surat paling puisi, aku begitu rindu.

Masihkah engkau ingat akan sebuah pagi ketika aku memintamu menyeduhkanku secangkir teh panas dan membawakanku sarapan?

Begitu lekat ingatanku dengan sikapmu yang malu-malu, engkau bahkan begitu sipu ketika jarimu kusentuh. Laksana bunga aster yang perawan, menggigil di awal pagi saat embun pertama jatuh di wajahnya. Demikian terpukaunya aku akan binar sayu mata, gemulai tingkah, dan santun bahasamu.

Ini pagi ke entah yang menjadi jarak. Meski dalam kesunyian, jiwa kita bercumbu pada rayu yang manja. Ketika siang mulai meninggi,  aku menunggu kabarmu hingga senja tiba. Dan malam tiba dengan sederet kisah engkau dan aku.

Biarlah pagi ini merangkul pagi kemarin dan pagi esok, pun seluruh pagi yang pernah ada dalam dekapan rindu. Jika saja temu masih tertunda, kupeluk jiwamu sehangat mentari pagi.

Salam untuk pagimu!