Layung Cahaya

 


Bulan muram menunduk wajah di selasar hari yang rebah bertilam gundah. Sabitah sebatang beranjak embara dalam dekap rumpun awan yang gelisah. Lentik jemari senja melukis langit dengan pendar layung cahaya. Di sana pilu kupusarakan!

Dan ketika lonceng-lonceng malam memuja Oshun dengan lagu pujian cinta, kusentuh rautmu pada jeda gending sunyiku. Laksana gaun bidadari malam, kulihat engkau. Aduhai elok sungguh elok, pukau matamu bening embun melinang-linang.  Aku pengembara di gurun sahara, Ke mana hendak kulenguh dahaga, di sana kemarau menyunting telaga.

Seranting pohon gersangkah aku? Kerontang terpenjara mendung, menunggu hujan renta usia sampai musim luruhkan segala? Hingga rahim daunku kembali hijau melahirkan putik-putik harapan yang adalah mukjizat dari-Nya?

Mungkin benar riwayat Yehezkiel berkias, “Seperti busur pelangi di celah hujan, akan kulihat gambar kemuliaan Tuhan”.

Lasusua, 22 Januari 2018