Bertakhta di kebimbangan mimpi ketika kita adalah dua bulir air mata yang berpusara di sudut bibir berbeda. Dan entah perih apa yang meneteskannya.
Jika takdir mempertemukan siang dan malam melalui senja, maka cinta menyatukan engkau dan aku melalui rindu. Jika dalam perjalananku mesti memijak runcing duri, itu hanya kenangan pahit yang memaniskan ingatanku tentangmu.
Duhai kusuma!
Rawatlah penuh kasih, mawar yang
dulu kutanam pada rimbun dadamu. Di sebuah musim nanti, aku akan datang untuk
menyemat wanginya ke dalam napasku. Kupetik setangkai, kujadikan rona sendu di
lembar puisi merah.
Lasusua, 5 November 2017
