Setangkup Dua Kandil

 


Tak lelah kukepak sayap mengitari mimpi yang mulai padam satu per satu. Kucari senyummu di lembar-lembar kumulus, juga pada jejak pijar sabitah. Ingin sekali kusaksikan panorama bibirmu sebelum kejora menutup usia.

Tak akan legam penaku bertutur tentang semesta rindu, serupa malam-malam hitam mengeja cahaya. Engkau selalu saja ada! Bulan, bintang, dedaunan, embun, bahkan dalam gulita. Dan aku, setangkup dua kandil tanpa nyala di tiadamu.

Selarik napas mengejawantahkan selaksa angan. Remah bayang kudekap di pelupuk, kujaga biar tak luruh. Hingga ragaku rebah tak berperi, tercampak di antara bias patah sang pagi.

Lasusua, 8 Desember 2017