Rindu Paling Purba

 


 

Setetes tinta menjadi kata ketika engkau berayun-ayun di bulu mata. Kutulis dalam bait-bait kasih, menitip sedikit metafora rindu biar serupa puisi. Dan inilah caraku menyentuhmu, saat mimpi bersitegang melawan kebimbangan.  

Serintik air mata menegurku, menyadari takdir begitu akrab berselisih paham dengan waktu yang mempertemukan kita di malam-malam tua. Serintik tak mengapa! Mungkin sebuah pertanda, bukan mudah mengukir sekulum senyum dari bibir yang gigil.

Setetes tinta dan serintik air mata mengeja harapan dalam dekapan sunyi setara hening, luruh dalam hikayat.

Lalu engkau, menjadi lembar teramat kujaga dalam kitab puisi yang pernah kugubah. Lembar tempat kusimpan rindu paling purba. 

Lasusua, 14 Desember 2017