Cahaya Terakhir

 


Kutatap sendu lambai terakhir sekunar bulan redup cahaya. Langit perlahan berjelaga sebab gemawan rindu kian memekat mendung. Hitamlah sudah segala putih.

Tak mesti kukabarkan sesal sebelum hujan menderas di kegamangan jiwa mendekap rimbun harapan. Kupilih merunut kepada diam, menolak petaka di ujung lidah mengakrabi kata-kata berebut ego.

Kepada samar bias terakhir, kubujuk anak-anak mimpi menerjemah tangisan senja. Kuceritakan padanya tentang mitos bianglala ketika membawa pesan gerimis menuju bebatuan karang. Semata percik tanpa jejak, hilang lalu basah.

Aku bercermin pada bening air yang enggan jatuh dari pelupuk mata, kutelan asinnya bersama hela napas. Biarlah prahara langit mengusap dadaku sematkan ikhlas. Kupeluk angan yang tak sempat menjadi nyata, kembali di ketiadaan.

Lasusua, 22 Desember 2017