Selark Pinta

 


Perempuanku, kilau matamu adalah mentari separuh wajah dibenam cakrawala ufuk barat. Layung biasnya menusuk gemingku saat seluruh sunyi menjadi engkau! 

Malam ini, kubaca pesanmu bersama jejak hujan tak menderas. Pada rintik putus-putusnya kueja senyummu yang kemarin tertinggal di segumpal mendung enggan pecah. Kutemukan selarik pintamu yang terkesima setelah tetes terakhir, “Lelakiku, tuliskan aku sebait rindumu di kertas langit!”

Akh! Mengapa mesti berselisih dengan pinta yang menyisakan tega?

Tujuh lembar langit tidaklah cukup mengisahkan semesta rinduku, menjadikannya kata pun aku tak kuasa. Haruskah kuceritakan tentang napas yang setiap kuhela adalah namamu? Juga tentang denyut nadi yang setiap detaknya adalah doa untukmu? Haruskah …?

Lasusua, 30 November 2017