Desah Rindu

 


Masih sempat kusaksikan gemulai daun gugur mengakhiri percakapannya dengan angin di senja itu. Hingga langit mengutus mendung, dan malam terjemput gamang.

Desah rindu merintih terpatah-patah serupa gerimis mengetuk malam. Kupungut satu-satu repihnya, kujadikan spasi pada renyut jantung puisiku. Selayang bayang tanpa tuan merunut pukau riwayat lalu. Engkaukah itu perempuanku?

Duhai merah mawar setangkai, erat kukepal duri tak hirau perih. Semisal luka mengucur air mata, jadilah ia bening mutiara. Jika benar purwa rasa berhulu pada sebeku darah menghuni dada. Izinkan napasku menderas di paru putihmu!

Ketika ragu meremah tanya, kudekap tasdik semesta cinta. Mampukah waktu merentang jarak untuk sebuah legenda di pangkal usia?

Bermahar nyawa tanpa jasad. Kunikahi engkau, sebelum rusuk menjelma Hawa.

Lasusua, 27 Desember 2017