Perempuanku

 


Perempuanku!
Tanah telah menjelma aku, dan engkau adalah lengkung iga kiriku! Pohon surga mengisahkan tiga khuldi terlarang nan manis menjadi sebab keterasingan. Sebiji tertahan di tenggorokanku, dua lainnya menjadi mata air di dadamu. Pertanda kita terhempas oleh durhaka yang sama.

Perempuanku!
Apakah semesta kasih yang mendekap cinta ini akan menggulita hanya karena sebuah gairah kelana rindu dalam jiwa berahi kita hingga menyanggamahi dosa terindah itu?

Di ranjang malam kunikmati wangimu paling perawan, maka nyanyikanlah desah yang teramat syahdu.

Perempuanku!
Mari nikmati nyawa sebelum ajal, jangan peduli kata di celah bibir. Kebutaanku muak menyaksikan lidah menjilat ludah, nabi-nabi telah lahir di ujung pena dan tuhan-tuhan tercipta dari kertas.

Lasusua, 2 Desember 2017