Perempuan di Balik Mendung

 


Senjaku patah tertikam hujan menderas pecah pada indah lembayung pantaimu. Kusaksikan awan perlahan memeluk malam di atas gelepar buih pesisir matamu, sementara sepanjang kisah aku sibuk bertikai dengan debu yang diam-diam cemburu kepada mendung yang berjelaga di relungku.

Lalu, ketika sepasang mata terjatuh dari langit yang entah tepat menimpa dada kiriku, aku menjadi sendu. Ada jejak pilu selayak sembilu kutitip di celah pasir nan putih hatimu, tergenggam prasangka.

Duhai ... andai saja sehelai ujung rambut dapat kuikatkan pada secebis karang yang tertidur di lembut bibirmu, mungkin pergiku esok akan pulang menimang rindu meminang cinta di bulanmu nan purnama.

Perempuan di balik mendung! Usah kausemat air mata pada pipimu yang jingga. Saat sunyi mendera bayangku yang seteru dengan hujan malam ini. Jangan menjadi ombak yang menghapus tapak sang pejalan. Biar menjadi prasasti, bahwa aku pernah ada di sana, di hatimu!

Palu, 10 Agustus 2017