Gerimis Itu Engkau

 


Gerimis itu tinggalkan senja tak menyisakan pelangi. Hanya genang di bekas pijak hilang bentuk. Juga daun-daun tak sempat membasuh wajahnya yang ditikam debu.

Gerimis itu membawa pergi senyumku, tak menyisakan segurat pun. Biarlah, biar kutelusuri punggung malam bergeming bibir. Seikat tawa terlalu mahal untuk kumaharkan kepada mimpi yang batu, nelangsa jua tiada mengapa.

Gerimis itu kuanggap gelisah awan yang ragu menjadi hujan ketika angin berseteru cahaya. Tergelincir dari tingkap-tingkap langit yang geram.

Gerimis itu engkau! Jatuhmu seribu rintik, namun patah di bulu mataku. Sekejap memang basah, lalu pamit tanpa bunyi. Gerangan apa engkau pertanda?

Lasusua, 21 Desember 2017