Aku hilang kata sejak perkara engkau yang bingung mengeja rebas embun pada debu-debu kering di bening mata ini. Padahal telah kuhapus lupa atas kenang tersirat di kening, sesaat setelah bulan menuntun setapak jalan ke hatimu.
Langkah kita terlanjur ayun, Kekasihku!
Tidakkah kaudengar merdu nyanyian asmaraloka yang talun-temalun di jantung putihmu?
Masih juga kaubaca taswir purnama pada dinding usang itu. Tak mesti mengaca di retak cermin!
Jika saja engkau membilang tega dalam lembar hari-hariku yang tersayat ragu, tak akan mampu kutimang deras hujan dari langitmu!
Kuabadikan rupamu dalam minda. Rumpun kasih kusimpul, terikat ikrar tak hirau tulah hingga usia terputus ajal.
Lasusua, 12 Desember 2017
