Gelisahku diam memapah paru, tersekat jalan setapak biru. Sekujur mata isyaratkan rindu, tetapi angin gulana tak restu. Harus kusimpuh ikhlas menuju tiada.
Kupungut satu-satu serpih bayang, meski hanya retak kaca dan perca menolak luput adalah lekuk kecil di pipi, yang setia kepada senyummu. Betapa ingin kupusarakan rindu di ceruknya.
Lalu matamu ... telaga tanpa riak!
Semisal bening embun pertama yang menyimpan rahasia suci malam-malam perawan. Aku hilang nyali untuk menyelami palungnya, tak ingin kuusik jelah itu. Biar membias umpama suluh di gelapku.
Gelisah ini bukan gulana berbatas temu, semata bimbang yang kuperam di debar jantung. Jika esok menjelma hujan, ikhlas kuminum tetes paling akhir.
Lasusua, 19 Desember 2017
