Hitam Itu Mungkin Aku


Rebah mimpi, lidah hilang kata. Doa patah satu-satu menimpa gugusan minda di tebing hati yang batu. Benakku gagu, menerjemah wasiatmu pada detik yang putus asa memahat pualam.  

Silam jalan dalam kelanaku memang belukar selindung duri, luka kuperam di balik runcingnya hingga terlupa serupa apa perih itu. Masihkah akan kautikam aku dengan duri yang sama?    

Jika saga pada layung senja yang merah di dadamu adalah bara membakar punggung ilalang, ke mana lagi embun di mata ini hendak kuranggaskan? Bukankah engkau tahu, telah kucintai senja sebagaimana aku merindukan malam-malam hening lindap cahaya.

Jingga di langit mana yang tak kulukis dengan namamu?
Biru di laut mana yang tak kukisahkan gemulai riaknya?
Hitam itu mungkinkah aku?

Lasusua, 18 Januari 2018