Filantropi Edelweis

 


Sekuntum edelweiss merajah bulan di rahim malam, wangi putihnya berbaur bening embun. Daun-daun rindu menggelayut di ranting harap, tumpah di hampar tanah basah.Tangkai mendekam bisu, terlupa lirik nyanyian mimpi saat pagi meracik cahaya. Entah gerangan apa, hingga kaupilih berkarib duri di rimbun belukar. Tahukah engkau? Telah kulebur napas ke dalam putikmu meski igau terik tanak jasad, pun hujan menikam ubun.

Sekuntum edelweiss memahat sunyi di remang masa. Lembar-lembar daun berkalam sangka kepada angin yang akrab menawar gugur.

Legenda berkisah tentang rupa nan samad, mekar pada lambai terakhir sang hujan. Kaunikahi gigil sunyi meski terik mentari di napasmu. Maka, kujelma diri serupa kabut. Biar kudekap mulia putihmu sampai rebas kembali purba.

Sekuntum edelweiss adalah engkau yang memahat dinding batu di tebing hatiku, tempat kita semayamkan filantropi maharindu paling baka.  

Lasusua, 15 Januari 2018