Engkaulah Rindu



Mencarimu di rimba malam, aku mesti berkarib dengan pena bunting yang menetaskan bayi tak berlisan di atas katil-katil imaji. Tangisnya menusuk serebrum anyir dalam kranium rapuhku. Mengapa haru mesti kupuja padahal lipur yang kudamba?

Sejak kidung maharindu kuperam di bawah nisan kayu, derai patah-patah sang hujan menjelma gending mengusik sunyi. Bukan untuk mengusir lara, tetapi teman bermesra bila denting tinggalkan hening. Dan haru adalah tilam penyanggah ketika air mata membadai tak hirau iba.

Pilu itu indah, kekasihku!
Maka jangan kaubenci prahara!
Ia adalah guru dari segala musim yang pernah ada, prayitna kalbu ketika busur tawa melesatkan anak panahnya mengabui netra sebelum berjelaga.

Mendekatlah, lebih dekat lagi!
Biar kuhirup aroma resahmu hingga desah penghabisan, lalu kulesapkan ke dalam tulang. Liar menikahi debar, di jantungku engkaulah rindu.

Luwu, 6 September 2017