Terlanjur Pagi

 


Kupungut cahaya sepenggal bulan tua lalu bercermin pada hitam yang engkau hunus. Wajah remah menatap runcing rindu, telah hilang pukau di sudut kerling itu.

Duhai engkau penggending jiwa!
Biar kupetik embun di awan matamu dan setangkai senyum kutitip menjadi ganti. Agar ia tak membawa pilu ke ujung bibir.

Akh, aku tak sanggup membilang tikam yang kauhunjam pada semilir angan. Mimpi menjadi gigil, lemah berkeluh.

Gerayangi malam serimba lara lihai merayu lindap sekunar gemintang.

Lalu engkau menjelma ranum kejora, tetapi malam terlanjur pagi.

Luwu, 29 April 2017