Sabitah Pinang Sebatang

 


Di tuturmu kunikmati guritan bestari, serupa monolog rindu menerjemah desah daun sebelum permisi dari ranting. Mungkin ada syak wasangka menitip ragu kepada mendung yang memberat di wajah sang perawi, hingga engkau begitu gemetar saat kusemat jujur di bibirmu.

Masih ingin kudengar kicaumu, mengapa lidah mendulang asap sedang angin menakrifkan sebuah hakikat. Mungkinkah itu sehelai cemburu yang kaukenalkan kepadaku?

Jika rembulan malam yang jatuh itu adalah engkau, ikhlas kulebur diri di ujung duri sebelum senja pamit dari cakrawala.

Dengarlah duhai!
Meski langit berpasir kemuning, engkaulah sabitah pinang sebatang. Ke mana biduk hilang arah, berpijak jua di cahayamu. 

Luwu, 4 September 2017