Sejak engkau tinggalkan rindu mengenas pada wajah purnama yang mendenting di jendela kamar. Aku menjadi gembala malam menyulap bayang selayak penenung mengeja mantra di ujung lidah.
Kugendingkan pilu menggurit gelisah yang terlerai dari tangisan sunyi menyembilu di setiap perjumpaanku dengan senja. Engkaulah cenayang meninggikan tega.
Ketahuilah duhai!
Seribu pijak selaksa jejak
tapakmu tak menjelma genang membilang kenang pada perigi bening yang berpalung
di mataku. Maka berlayarlah engkau di atas lengkung pelangi sebelum gerimis
kupungut satu-satu dari pelupuk mega lalu menyegerakan sebuah lambai pertanda
kisah kita telah kutamatkan.
Luwu, 1 Juni 2017
