Hujan kemarin yang jatuh di bawah jendela kamarku telah tumbuh menguntum mawar, sepotong pelangi putus-putus trenyuh di pelupuknya.
Sepasang angin malam tengadah menyimak kabar tentang mitos rindu sang pungguk. “Bulan tak perawan malam ini!” katanya.
Mawar di bawah jendela terbahak, sepotong pelangi putus-putus jatuh di keningnya.
Akh pandai nian engkau
berkelakar, merayu sudut bibir memukau senyum. Kausangka ini sebagai rindu,
bodohlah aku menggenggam arang sedang bara tergelak tawa.
“Hei, daun tak butuh gelisah
sebelum jatuh,” kataku sekali lagi.
Mawar di bawah jendela terbahak, sepotong pelangi putus-putus trenyuh di pelupuknya.
Luwu, 3 September 2017
