Tega

 


Dengan apa harus kupintal debu menjadi harapan, sedang purnama pecah di atas cadas keangkuhan. Dan ketika takdir jatuh dari langit menumbangkan segala mimpi. Kaubilang cinta akan membuatku bangkit dengan kekuatannya. Tetapi, di mana kueja rindu saat mata menghamba pada hitam?

Sampai sudah kepadaku kabar tentang pilu yang kaukirim. Hatiku hanya secebis lebam mendekap luka, mengapa masih kausisakan tega menyayat hayat? Padahal, sekepal degup di dada ini telah menjadi engkau ataukah mesti kuberi nyawa untuk mencipta senyummu?

Aku berdiri di atas karang kesabaran yang mulai rapuh. Getar kaki goyahkan tempatku berpijak. Kusiapkan selaksa jerit untuk melengkapi perih, kaubentang kata pisah di ujung hari yang terkoyak.

Selamat jalan penggending jiwa!
Kutatap punggungmu, dengan berkaca pada bening air mata

Luwu, 9 Mei 2017