Ke mana kulipurkan lara ketika diammu, sedang engkau adalah rindu yang kupuja. Rasaku paling surga saat menyaksikan senyummu berloncatan di bulu mata ini. Sementara, pada tasik di matamu kusaksikan pelangi bersolek dengan bibir yang basah.
Di mana kutuju arah ketika hilangmu, sedang engkau adalah pangkal jalan di sesatku. Resahku paling rindang saat bersandar di merdunya kata yang gerimis dari bibirmu. Dan, pada teduh tuturmu kunisankan segala sungkawa bersanggama dengan masygul.
Kepada kemuning pagi, layung senja hari, dan malam bermandi purnama. Seluruh detik mengejawantah renungku menuju engkau. Seribu jalan selaksa liku mengiblatkan cinta yang firdaus, tempat kumunajatkan sucinya doa-doa rindu di bawah keagungan-Nya.
Luwu, 30 Agustus 2017
