Engkau di Bulu Mata

 


Berjalan di rimbun sunyi, ketika jerit perih menyanyi. Angan diam-diam tak lirih sebunyi, bayang-bayang luka beranjak sembunyi.

Napas terhela senyap angin nan sendalu, pergi membawa harapan setikar pilu. Nanar mata di bawah pelupuk nan bermalu, serampai lidah hanyalah sayat sembilu. Lagu dan sajak terdera kelu, terlayang jiwa selayang pialu.

Oh, betapa hati ngilu!
Bukan sekarang sedari dahulu, di bulu mata engkau melulu.

Mengapa tega nyaringmu membelasah, haruskah pena dan tinta saling bersesah?
Engkau tahu seperti apa itu gelisah, apakah di sana engkau tak resah?
Izinkan aku merindu kepada basah, meski rebas di rapuhnya ujung kisah. 

Luwu , 7 September 2017