Aku yang akrab menyulam bayang ketika luput menenun serabut mimpi. Senja tadi, pilu bertamu mengajak berkarib dengan air mata.
Kelusuh-kelasah detak di dada menanyakan jalan ke rimba ingatan. Hilang arah, tercuri hujan malam ini.
Angin menjelma gelebah tambo telusuri hibat melayah dingin. Rindu menenggak anyir nestapa, rembas harap di bibir karang.
Engkaulah luka berdarah-darah yang lahir dari ijab seringai janji. Terlupa jiwa mudah patah, menutup mata di akhir hikayat.
Luwu, 20 Mei 2017
