Menyibak angan di layung petang saat kutimang wajah di gurat senja. Adalah engkau penggending sunyi yang menangis di dada kiriku, selepas pamit diri di gerbang malam.
Oh ... pilu hati sungguh pilu, jiwaku sendu sungguh sendu. Berdarah-darah di ujung sembilu, berlinang-linang menanggung rindu.
Malam berganti sisakan hening, bunga di genggaman jatuh terpelanting. Satu per satu kelopaknya mengering, berserakan di kertas puisi bening.
Perih hati mengulum luka, menyadari engkau tinggal puing dalam kenang. Jauh, membawa mimpiku yang biru lebam hingga senyum semakin sabit lalu gamang, menjadi asap.
Luwu, 22 Juli 2017
